“Jelas ini sangat mengganggu iklim wisata di Yogyakarta,” tutur Sekretaris Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono.
Menurutnya, sisi keamanan menjadi variabel penting dalam sebuah bisnis, termasuk pariwisata. Banyak tamu atau wisatawan akan sensitif dengan ancaman dan teror bom, terlebih kejadian bom beberapa kali mengguncang Tanah Air, kendati Yogyakarta tetap aman. Seperti pada kasus bom Bali, dampaknya kuat terasa pada pariwisata Yogyakarta.
“Bom sangat sensitif dengan pariwisata,” tandasnya.
PHRI berencana menggelar pertemuan dengan Brimob Polda DIY pada Kamis, 20 September 2012, di Ros In Hotel. Pertemuan lebih dimaksimalkan pada sistem pengamanan hotel dengan melibatkan pihak keamanan hotel.
Ketua PHRI Istidjab Danunegoro mengutuk keras ancaman bom. Ancaman seperti ini bisa berdampak luas terhadap kondisi pariwisata Yogyakarta, apalagi saat ini tengah bangkit dari keterpurukan, setelah diancam gempa bumi Bantul dan erupsi Merapi.
“Semoga ini tidak berdampak karena Yogyakarta tetap aman,” tandasnya.
Pasca ancaman bom diterima manajer Whiz Hotel, Tim Jihandak Polda DIY langsung melakukan penyisiran di semua hotel. Hampir semua lorong dan kamar hotel disisir, khususnya Lantai 5 dan 6, sesuai teror lewat pesan singkat diterima manajer hotel. Namun, hasilnya nihil alias tidak ada bom.
“Saya tidak kenal dengan nomor pada SMS itu,” jelas Manager Hotel Whiz Aziz Sismono.
Selama pemeriksaan oleh polisi, manajemen hotel tidak mengosongkan seluruh ruangan. Pemeriksaan hanya pada 100 kamar yang dimiliki setelah meminta izin kepada tamu yang menginap.
“Kebetulan, semuanya tengah full boked, tetapi tidak ada yang kita kosongkan,” tutupnya.
(Travel.Okezone.com)

0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !