Dulu Luang Prabang adalah ibukota sekaligus pusat pemerintahan kerajaan Lao. Pada akhir abad ke-16 terjadi perpecahan dalam kerajaan Lao dan mengakibatkan melemahnya kekuatan militer.
Tahun 1887, Kerajaan Lao menerima bantuan perlindungan dari perancis. Sesaat setelah itu, muncullah vila-vila megah dan bangunan koloni bergaya Prancis yang membaur di sekitar bangunan tradisional Lao di ibukota Luang Prabang.
Gadis suku asli di sana
Sampai akhirnya, tahun 1975 Kerajaan Lao diambil alih oleh pemerintahan komunis Laos dan revolusi pun terjadi. Pada tahun 1989 Laos dibuka kembali untuk turis dan mengubah keberuntungan kota tersebut. Rumah-rumah kayu di sana dirubah dan vila-vila koloni bergaya Prancis menjadi tempat penginapan, butik hotel hingga restoran.Yang paling unik pada saat saya berkunjung ke Luang Prabang yaitu bangun pada pagi hari dan menyaksikan upacara sakral pemberian sedekah atau dikenal dengan 'Sai Bat'. Di mana para biksu yang hanya ditutupi kain warna oranye dan membawa bakul kecil mengitari sebagian kecil kota untuk menerima sedekah dari penduduk setempat yang mayoritas beragama Buddha.
Pembagian sedekah dan makanan ke para biksu
Masyarakat sudah menyiapkan persembahan berupa nasi ketan, buah atau camilan tradisional. Mereka duduk di pinggiran jalan dan menunggu para biksu melewatinya. Konon berdasarkan cerita warga setempat, makanan yang terkumpul merupakan jatah makan selama sehari bagi para biksu tersebut. Upacara ini berlangsung setiap hari sekitar pukul 05.00 pagi waktu setempat. Sungguh suatu kegiatan yang sangat langka.Pada malam hari, kota tua ini ramai dengan pasar malam yang juga merupakan salah satu atraksi yang ditunggu turis saat berkunjung ke Luang Prabang. Berlokasi tepat di jalan utama Royal Palace Museum. Ada lebih dari 300 warung tenda berjualan cinderamata dan kerajinan tangan ciri khas Laos yang tentunya hampir mirip dengan kerajinan tangan negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam.
pasar malam dengan latar belakang Royal Palace
Hebatnya, para penjual di pasar malam ini tidak terlalu agresif dan cenderung lebih ramah terhadap turis. Acara tawar-menawar di sini pun sudah jadi hal yang wajib diterapkan apabila ingin berbelanja.Selain berbelanja, pasar malam ini juga menyediakan pasar jajanan khas Laos dari snack sampai makan malam pun tersedia di pasar jajanan ini. Selain enak, porsi yang lumayan besar, juga harga yang relatif murah membuat pasar jajanan ini selalu dipadati oleh turis maupun warga sekitar.
Luang Prabang merupakan kota yang menawarkan keunikan tersendiri. Siapa pun yang mengunjungi pasti merasa terbawa dengan sejarahnya. Para turis bisa memilih berjalan kaki, bersepeda motor atau bersepeda mengitari kota tua. Sepanjang Sungai Mekong banyak terdapat restoran hingga warung minum untuk bersantai. Sungguh Luang Prabang adalah kota tua yang sangat ramah dan indah.
(traveldetik)

0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !